TERPUTUS SAAT MERASA TERHUBUNG


Pada galibnya, ketika kita mencoba menghubungkan dua hal yang tidak terhubung, dengan wasilah yang kita pilih, harapan terhubung itu akan membumbung tinggi di langit asa. Kecuali kita salah memilih wasilah atau memang tidak bersungguh-sungguh mengupayakannya.
Pun demikian saat kita menunaikan serangkaian ibadah kepada Allah. Pengorbanan waktu, tenaga, atau harta yang kita lakukan, tentunya dengan harapan beroleh hasil yang sepadan. Pahala yang besar, perasaan yang terhubung dengan Sang Mahabesar, atau merasa telah melakukan sebuah karya besar.
Coba bayangkan jika faktanya kita terputus dengan Allah, terjadi justru saat kita merasa telah menempuhi wasilah penghubung itu. Alih-alih hubungan dengan Allah membaik atau bertambah dekat, kita ternyata malah membuat jarak dan, bisa jadi, bertambah jauh dari Allah. Bukankah hal ini sangat menakutkan jika kita menyadarinya?
Meski menjalankan ibadah, mereka terputus dari Allah, kata Ibnul Qayyim, kalbu mereka terhijab dari maghfirah, mahabbah, rindu akan perjumpaan dengan-Nya. Hal itu terjadi sebab mereka menunaikannya sebagai wasilah mendapatkan hak dan bukan sebagai sarana menunaikan kewajiban. Sedang hak yang mereka tuntut tidak jauh dari kenikmatan dunia.
Bahwa, ibadahnya manusia kepada Allah adalah tujuan penciptaannya, yang karenanya ia adalah kewajiban sebab ada hak Allah didalamnya. Ia harusnya adalah persembahan yang tulus murni tanpa tendensi apapun didalamnya. Kita hanya menunaikannya dan terserah bagaimana Allah berbuat sekehendaknya. Meski kita percaya bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.
Maka, mestinya kita tetap beribadah kepada-Nya meski dalam kondisi yang tidak menyenangkan, atau tidak sesuai dengan harapan. Sebab ilmu Allah sempurna dan ada banyak hikmah yang tidak akan bisa kita kuak, kecuali dia membukanya untuk kita.
Sungguh, jika kita mengetahui, maka ibadah yang telah kita tunaikan, sebenarnya, masih jauh dari yang semestinya. Sangat tidak layak untuk dibanggakan dan dipamerkan. Karena keterhubungan dan keselamatan hakiki, tidak semata-mata terletak pada ibadah kita itu. Tetapi lebih kepada afiah, maghfirah, dan rahmat Allah.
Kita harus tahu, bahwa Allah harus ditaati dan bukan dimaksiati, diingat dan bukan dilupakan, serta disyukuri dan bukan dikufuri. Sehingga ibadah menjadi kepasrahan total yang kental akan ketundukan dan kecintaan. Bukan bertendensi duniawi yang akan kita tinggalkan saat sulit datang melilit. Bukan persembahan tanggung yang sering membuat bingung sebab banyaknya ibadah yang telah kita tunaikan, tidak parallel dengan harapan-harapan kita didunia.
Lalu, apa artinya beribadah jika ternyata kita terpisah dari Allah? Berusaha terhubung namun tidak tersambung?Merasa dekat padahal tersekat?
Ya Allah, istiqamahkanlah kami atas pemahaman ini agar ibadah kami berarti, di sisi-Mu!

Makassar, 30-10-2010  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seindah Cinta Wanita Perindu Surga

Kisah Pemuda Pemberani dari Raksasa yang Zalim